News Research

Aksi Berbagi Lerak

Penulis : Roza Dhya Fauziah

Aksi Berbagi Lerak Thirst Project Indonesia

Penggunaan detergen sebagai sabun pencuci pakaian masih menjadi pilihan utama untuk industri maupun rumah tangga terutama untuk daerah perkotaan. Detergen dianggap lebih baik dalam membersihkan noda dan bau. Hal ini disebabkan karena detergen mengandung surfaktan atau surface active agent yang berguna untuk mengangkat kotoran, baik yang larut dalam air maupun yang tak larut dalam air. Penggunaan detergen pun semakin meningkat tiap tahunnya, sejalan dengan pertumbuhan GDP di Indonesia, Berdasarkan Survey Jakpat tahun 2016 pada 1603 responden di Indonesia, sebanyak 95% masyarakat menggunakan detergen dan 73% masyarakat Indonesia menggunakan detergen bubuk.

Namun seperti yang kita ketahui, detergen merupakan salah satu zat kimia yang jika digunakan dalam jangka waktu yang lama akan menimbulkan masalah yang sangat serius dan berdampak pada pencemaran lingkungan. Pencemaran ini disebabkan karena bahan kimia yang digunakan pada detergen seperti surfaktan. Surfaktan ini merupakan senyawa yang berasal dari minyak bumi yang sulit terurai di alam bebas sehingga menganggu kadar oksigen yang terlarut pada perairan, akibatnya akan berdampak pada ekosistem di badan air penerima limbah hasil cucian tersebut.

Oleh karena itu, banyak aktivis ataupun komunitas pecinta lingkungan yang mensosialisasikan beberapa alternatif pengganti sabun cuci pakaian yang lebih efektif dan tidak memberikan efek pencemaran. Salah satu alternatif pengganti sabun cuci yang dianggap efektif yaitu dengan menggunakan sabun yang berasal dari lerak.

Lerak (Sapindus rarak DC) merupakan salah satu bahan alam yang tumbuh mayoritas di pulau Jawa. Tanaman ini mempunyai nama yang berbeda pada setiap daerah, seperti di Palembang disebut lamuran, di Jawa lerak dan di Jawa Barat sering disebut rerek. Didalam lerak, terdapat 28% senyawa saponin. Saponin inilah yang akan menghasilkan busa sehingga dapat digunakan sebagai bahan pencuci dan dapat pula digunakan sebagai pembersih berbagai peralatan dapur, lantai bahkan memandikan hewan peliharaan. Saponin akan menghasilkan busa ketika direaksikan dengan air. Lerak ini lalu diambil bijinya dan dikeringkan. Biji yang kering ini lalu dilarutkan dalam air dan selanjutnya bisa menjadi alternatif pengganti deterjen cair.

Oleh sebab itu, Thirst Project Indonesia tertarik untuk melakukan aksi untuk menjaga air supaya tidak tercemar akibat dari penggunaan detergent. Sebagai komunitas yang bergerak di bidang lingkungan khususnya pada air bersih, Thirst Project Indonesia mengadakan sosialisasi dan pembagian lerak ke masyarakat. Sosialisasi dan pembagian lerak ini bertajuk “Hari Ini Kita Cerita Tentang Air” yang dilakukan pada tanggal 5 Desember 2020 di Kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur. Tentu saja dalam kondisi pandemi Covid-19 ini, kami mengadakan sosialisai dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan dan dilakukan dengan jumlah orang yang terbatas serta sebelum aksi dilakukan kami meminta izin terlebih dahulu ke ketua RT setempat untuk melakukan kegiatan ini.

Sosialisasi kepada masyarakat lebih diprioritaskan kepada ibu rumah tangga, mengingat yang sering melakukan kegiatan mencuci adalah ibu-ibu. Sebagai awal kegiatan, masyarakat daerah sekitar kami lakukan wawancara seputar detergent apa yang biasa digunakan dalam mencuci pakaian sehari-sehari, sumber air yang digunakan, jumlah keluarga, nyaman atau tidaknya penggunaan detergent konvensional dan lain sebagainya. Ternyata, mayoritas masyarakat yang diwawancara terbiasa menyukai penggunaan detergent konvensional karena dianggap bersih, wangi, dan busa yang dihasilkan cukup banyak.

Kemudian, kami adakan sosialisasi dan pembagian lerak serta kami informasikan beberapa dampak yang dihasilkan apabila menggunakan detergent konvensional secara terus-menerus ke lingkungan sekitar khususnya penurunan kualitas air sungai sebagai badan air buangan hasil cucian. Selanjutnya, kami informasikan cara penggunaan lerak sebagai alternatif pengganti detergent konvensional serta dampak penggunaan lerak ke lingkungan apabila digunakan, lalu kami meminta ibu-ibu yang menerima lerak untuk melakukan uji coba dan akan kami konfirmasikan kembali penggunaan lerak tersebut 2 minggu kemudian.

Setelah 2 minggu, kami follow up kembali terhadap penggunaan lerak tersebut kepada ibu-ibu penerima lerak melalui saluran telpon. Hasilnya, beberapa masyarakat daerah pulogadung ada yang belum mencoba lerak dikarenakan masih ragu-ragu serta kurang nyaman dalam penggunaanya. Namun, ada ibu-ibu yang sudah mencoba dan mengatakan bahwa hasil cucian lumayan bersih walau hasil tidak sebersih detergent konvensional serta tertarik untuk mencoba kembali.

Dari hasil aksi yang kami, dapat kami simpulkan bahwa masih banyak masyarakat yang belum terbiasa dengan penggunaan lerak sebagai alternatif pengganti detergent konvensional serta ketidak tahuan masyarakat tentang lerak secara mendalam baik cara penggunaan sampai dengan dampak lingkungan yang dihasilkan apabila menggunakan lerak. Hal ini bisa disebabkan karena kurangnya sosialisasi terhadap penggunaan lerak, penggunaan detergent konvensional yang lebih praktis, akses untuk mendapatkan biji lerak sebagai bahan dasar yang sedikit sulit dan lain sebagainya.

Sebenarnya cara menggunakan lerak tidaklah terlalu sulit, hanya saja lerak memang sedikit susah ditemukan dan jarang dijual apalagi di wilayah Perkotaan. Cara membuat sabun lerak meliputi (1) menyiapkan biji lerak ± 3 buah kemudian dicampur dengan air bersih ± 1 liter (2) tambahkan garam sedikit ± sepucuk sendok teh (3) lerak yang sudah dicampur air direndam selama ± 2 hari (4) selepas itu, lerak sudah siap digunakan.

Oleh karena itu, kedepannya dibutuhkan sosialisasi melalui pemerintah ataupun kegiatan kerelawanan secara lebih intens dan mendalam tentang cara penggunaan produk lerak ini dan atau melakukan pengemasan yang lebih komersial menjadi kemasan yang siap pakai seperti menggunakan botol yang ramah lingkungan. Selain itu, dapat dilakukan pengembangan agar hasil cucian menjadi lebih bersih dan wangi, namun tetap meminimalisir hasil pencemaran agar kedepannya lerak dapat hadir sebagai alternatif detergent konvensional untuk meminimalisir resiko pencemaran di masa yang akan datang.

Referensi:

Lestari, W.A., Samanhudi, D. and Wati, E.P., 2019. Analisis Pangsa Pasar Detergen Bubuk Dan Penentuan Strategi Pemasaran Pada Merek Yang Memiliki Pangsa Pasar Terkecil Dengan Metode Markov Chain dan SWOT di Wilayah Surabaya Timur. Tekmapro: Journal of Industrial Engineering and Management14(2), pp.1-12.

Taufik, I., 2006. Pencemaran Deterjen dalam Perairan dan Dampaknya Terhadap Organisme Air. Media Akuakultur1(1), pp.25-32.

Wijayanti, F., Sari, M., Suprayitno, R. and Aminin, D., 2020. The Gel Soap with Raw Materials of Lerak Fruit (Sapindus rarak DC). Stannum: Jurnal Sains dan Terapan Kimia2(1), pp.1-6.