Research

Kekeringan Tak Kunjung Menemukan Jalan Keluar

Penulis : Larasati Dwi Rizqiqa (Ayas) Kekeringan yang Tak Kunjung Menemukan Jalan Keluar Kekeringan sejatinya merupakan salah satu permasalahan serius yang sering kali muncul ketika musim kemarau tiba, di mana kekeringan digolongkan sebagai salah satu bencana alam seperti yang termaktub di dalam Pasal 1 butir ke-2 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Kekeringan sendiri dapat diartikan sebagai kondisi di mana ketersediaan air yang jauh di bawah kebutuhan masyarakat sebagai akibat dari defisit curah hujan dalam periode waktu tertentu, adapun fenomena penyimpangan iklim yang mengakibatkan kemarau panjang ini biasanya dikenal dengan istilah El Nino. Berkenaan dengan hal tersebut, menurut Bakornas PB, kekeringan berdasarkan tipenya dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu kekeringan meteorologis, kekeringan hidrologis, dan kekeringan pertanian. Adapun yang dimaksud dengan kekeringan meteorologis ialah suatu kondisi di mana curah hujan dalam satu musim yang berada di bawah normal. Kekeringan ini sejatinya menjadi indikasi awal munculnya bencana kekeringan.

Kekeringan pertanian terjadi setelah kekeringan meteorologis, di mana kandungan air dalam tanah tidak mencukupi kebutuhan tanaman pada suatu periode dan cakupan wilayah yang luas. Sementara kekeringan hidrologis dapat diartikan sebagai suatu kondisi di mana terdapat penurunan air di waduk, muka air sungai, danau dan muka air tanah secara alami. Akhir-akhir ini banyak sekali pemberitaan di media massa yang berkaitan dengan kekeringan, fenomena ini tak jarang menyebabkan beberapa tempat di Indonesia kesulitan mengakses air bersih. Penyebab dari bencana kekeringan ini tentunya akan sangat berpengaruh pada seluruh aspek kehidupan manusia, misalnya saja kerusakan lahan dan dampak kerugian yang diakibatkan oleh kejadian kekeringan yang sangat luas serta penurunan kualitas kesehatan masyarakat yang ditandai dengan banyaknya gejala kurang gizi akibat kekurangan bahan makanan. Fenomena kekeringan ini nyatanya menimpa beberapa wilayah di Jawa Barat, misalnya saja pada Kecamatan Cibarusah dan Kabupaten Sumedang.

Cibarusah merupakan sebuah kecamatan yang terletak di Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Tercatat bahwa dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, Kecamatan Cibarusah menjadi wilayah yang kerap kali dilanda kekeringan setiap tahunnya. Dilansir dari salah satu situs berita online, menyatakan bahwa kekeringan ekstrem setidak-tidaknya melanda 3 desa yakni desa Ridogalih, desa Ridomanah, dan desa Sirnajati. Hal tersebut dikonfirmasi oleh Kepala Pusat Pengendalian Operasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Pusdalops BPBD) Kabupaten Bekasi, ia mengatakan bahwa kekeringan disebabkan karena hujan yang tidak turun sejak awal Mei 2019, sehingga kekeringan terjadi sejak 2 bulan lalu. Kekeringan ini tercatat terjadi dari tahun 2019 hingga bulan Agustus 2020, setidaknya terdapat 2280 KK yang terdampak kekeringan karena tidak ada air yang mengalir bahkan Sungai Cipamingkis tampak surut. Akibat dari kekeringan ini, warga Kecamatan Cibarusah hanya mengandalkan air tangki yang dibeli saat supplier air datang ke kecamatan ini. Bahkan tak sedikit warga yang harus menempuh perjalanan sejauh 5 kilometer untuk mendapatkan air bersih guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Fakta lain menyatakan bahwa alternatif lain yang dilakukan hampir sebagian besar warga Kecamatan Cibarusah adalah memanfaatkan sisa air di Kali Cihoe yang mulai surut, di mana dasar kali berupa bebatuan dan pasir mulai terlihat serta menyisakan air berwarna kehijauan. Kondisi mata air yang menjadi harapan masyarakat ini tentunya sudah dikategorikan sebagai air yang tidak layak untuk digunakan karena akan mengundang banyak penyakit, seperti sakit perut, gatal-gatal, dan lain-lain. Dilansir dari salah satu situs berita online menyatakan bahwa tak jarang warga Kecamatan Cibarusah memutuskan untuk berpergian beberapa kali sejauh 2 kilometer hanya untuk mengambil air yang tak layak konsumsi karena air tersebut terlihat keruh meskipun tidak mengeluarkan bau. Permasalahan utama sebagai dampak dari kekeringan ini tidak hanya menyerang kesehatan warga Kecamatan Cibarusah, namun juga akan memberikan ancaman terhadap ketahanan pangan di Kecamatan Cibarusah. Kekeringan ini sejatinya memberikan dampak gagal panen yang dialami para buruh tani, hal itu berakibat tidak bisa dijual dan dikonsumsinya panen yang gagal tersebut. Dengan begitu, para buruh tani pun akan kehilangan sumber penghasilan, sehingga tidak sedikit dari warga beralih profesi mencari pekerjaan baru. Fakta ini pun sejalan dengan cerita yang disampaikan oleh salah satu buruh tani, Omah. Ia menyampaikan bahwa pada tahun ini, sudah 2 kali ia mengalami gagal panen, hal ini berdampak langsung pada perekonomian di Kecamatan Cibarusah karena mayoritas mata pencaharian warga pada wilayah yang terkena kekeringan adalah petani. Keadaan kekeringan yang tak jauh berbeda terjadi di Kabupaten Sumedang yang setidak-tidaknya melanda 33 desa, hal ini pun dibenarkan oleh Kepala BPBD Kabupaten Sumedang, Ayi Rusmana yang mengatakan bahwa pada sejumlah wilayah mengalami kekeringan ekstrem dan mengakibatkan warga mengalami krisis air bersih sebagai akibat dari musim kemarau yang berkepanjangan.

Fakta lain menyatakan bahwa warga Kabupaten Sumedang rela mengantri untuk mendapatkan air bersih yang dikirimkan oleh pemerintah. Menurut pengakuan salah satu warga, krisis air bersih ini dialami wilayahnya setiap tahun saat akan memasuki musim kemarau, di mana kondisi air dari PAM dan sumur mereka kering. Dengan adanya fenomena kekeringan ini, tak jarang warga Kabupaten Sumedang memutuskan untuk menggunakan air sungai yang kondisinya dapat dikatakan tak layak konsumsi karena sangat keruh. Tak sampai disitu, selain kekurangan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, akibat adanya kekeringan ini 8 hekter sawah di Sumedang teracam gagal panen. Dilaporkan bahwa kondisi dari tanaman padi di lokasi tersebut sebenarnya sudah mulai mekar dan berbuah, namun akibat dari kemarau panjang justru berakibat terancam gagal panen, padahal sebelumnya pemerintah sekitar sudah melakukan upaya mengairi areal pesawahan, namun tak kunjung membuahkan hasil. Menurut keterangan beberapa warga, Pemerintah Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Sumedang sudah beberapa kali mengadakan bantuan ke daerah-daerah terkait untuk menyelesaikan permasalahan kekeringan, namun hingga saat ini upaya yang telah dilakukan tak cukup untuk menjawab harapan setiap warga yang terkena dampaknya.

Adapun upaya-upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Bekasi ialah sebagai berikut: 1. Pemerintah Kabupaten Bekasi nyatanya telah berusaha untuk membuat empang serta sumur galian agar warga sekitar dapat mengakses air bersih, namun sayangnya air dalam sumur tersebut sangat tidak layak untuk dipakai mandi atau dikonsumsi sebagai air minum karena keruh bahkan sampai hijau. 2. Bantuan dari BPDP Kabupaten Bekasi berupa supply air bersih, namun bantuan air bersih ini nyatanya hanya untuk beberapa wilayah saja, sehingga tidak semua wilayah Kecamatan Cibarusah mendapatkannya. 3. Pemerintah Kabupaten Bekasi akan membangun hidran umum dan embung di desa yang kerap terdampak kekeringan, namun sama seperti bantuan air bersih, hal ini juga tidak diterapkan di seluruh wilayah. 4. BPDP Kabupaten Bekasi memberikan jaringan sambungan air kepada desa yang rawan kekeringan. Sementara upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Sumedang ialah sebagai berikut: 1. Bantuan berisi air bersih berupa 3 truk tangki milik Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), namun nyatanya bantuan tersebut tak cukup membantu masyarakat sekitar 2. Melakukan upaya pengaliran air pada areal pesawahan, namun terkadang selang airnya pecah dan harus diganti berulang kali. Dari beberapa fakta yang sudah dipaparkan sebelumnya, dapat dikatakan bahwa sejatinya hal-hal tersebut memperlihatkan bahwa permasalahan kekeringan di Kecamatan Cibarusah dan Kabupaten Sumedang sudah dikategorikan sebagai isu cukup serius dan memerlukan penanganan khusus sesegera mungkin.

Bantuan dari masyarakat merupakan suatu hal yang sangat diharapkan oleh warga Kecamatan Cibarusah dan warga Kabupaten Sumedang untuk membantu mereka terlepas dari penderitaan akibat kekeringan, sehingga sesegera mungkin mereka dapat melakukan aktivitas seperti biasanya. Adapun bantuan yang dapat dilakukan untuk membantu warga Kecamatan Cibarusah dan Kabupaten Sumedang, antara lain sebagai berikut: 1. Membuat Sumur Bor di sekitar wilayah Kecamatan Cibarusah dan Kabupaten Sumedang Pembuatan sumur bor ini dibuat dengan sumber air yang sangat dalam, sehingga diharapkan ketika musim kemarau panjang berlangsung, sumur tersebut tidak mengalami kekeringan. 2. Memasang jaringan sambung di beberapa wilayah yang mengalami kekeringan 3. Memberikan bantuan air bersih menggunakan Water Truck.

DAFTAR PUSTAKA Buku Bakornas PB, Pengenalan Karakteristik Bencana dan Upaya Mitigasinya di Indonesia, Jakarta : Direktorat Mitigasi, 2007. Kodoatie Robert, Pengantar Manajemen Infrastruktur, Yogyakarta : Penerbit Pustaka Pelajar, 2011. LIPI-UNESCO/ISDR, Kajian Kesiapsiagaan Masyarakat dalam Mengantisipasi Bencana Gempa dan Tsunami, Jakarta : Deputi Ilmu Pengetahuan Kebumian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 2006. Jurnal Dwi Hastuti dkk, “Mitigasi, Kesiapsiagaan, dan Adaptasi Masyarakat terhadap Bahaya Kekerigan, Kabupaten Grobongan”, Jurnal Geo Eco, Vol. 3, No.1, 2017. Elza Surmaini, “Pemantauan dan Peringatan Dini Kekeringan Pertanian di Indonesia”, Jurnal Sumberdaya Lahan, Vol. 10, No.1, 2016. Endang Savitri, “Identifikasi dan Mitigasi Kerentanan Kekeringan Das Moyo”, Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Vol. 2, No.2, 2018. Indarto dkk, “Studi Pendahuluan tentang Penerapan Metode Ambang Bertingkat untuk Analisis Kekeringan Hidrologi pada 15 DAS di Wilayah Jawa Timur”, Jurnal Agroteknologi, Vol. 8, No. 2, 2014. Perundang-Undangan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 4 Tahun 2008 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana. Website/Internet/Sumber Lainnya Aam Aminullah, “ Adinda Purnama Rachmani, “6 Bulan Kekeringan, Warga Cibarusah Harus Jalan 5 KM demi Air Bersih”, Detik News, < https://news.detik.com/berita/d-4766309/6- bulan-kekeringan-warga-cibarusah-harus-jalan-5-km-demi-air-bersih > Fhirlian Rizqi, “Kekeringan Ancam Ketahanan Pangan di Cibarusah, Bekasi”, ACT News, < https://news.act.id/berita/kekeringan-ancam-ketahanan-pangan-dicibarusah-bekasi > Isal Mawardi, “Sungai Mengering, 3 Desa di Kabupaten Bekasi Kekurangan Air Bersih”, Detik News, < https://news.detik.com/berita/d-4603868/sungaimengering-3-desa-di-kabupaten-bekasi-kekurangan-air-bersih > Muhammad Rizal, “Kekeringan, Ratusan Warga Sumedang Rela Antre Air Bersih Malam-malam”, Detik News, < https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d5196511/kekeringan-ratusan-warga-sumedang-rela-antre-air-bersih-malammalam > Muhammad Rizal, “33 Desa di Sumedang Rawan Alami Kekeringan Saat Musim Kemarau”, Detik News, < https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d5122240/33-desa-di-sumedang-rawan-alami-kekeringan-saat-musim-kemarau > Tommi Andryandy, “Kekeringan di Kabupaten Bekasi, Ada Warga yang Masih Tempuh Perjalanan Dua Kilometer demi Air Bersih”, Pikiran Rakyat, Yusuf Bachtiar, “Kekeringan di Cibarusah, Sisa Kali Cihoe Jadi Sumber Mata Air Utama Warga”, Tribun Jakarta,