Research

Lika-liku Panjang Akan Hak Asasi Paling Dasar

LAPORAN HASIL RISET/ANALISIS JURNAL (Desember)
TIM WATER ISSUE
THIRST PROJECT INDONESIA
Penulis : Cande Kirana Jingga
Lika-Liku Panjang Akan Hak Asasi Paling Dasar


Persoalan air bersih bukanlah suatu berita baru di Indonesia, bahkan persoalan ini
merupakan suatu persoalan yang telah ada sejak lama dan tak kunjung dapat diselesaikan
eksistensinya. Padahal konstitusi negara telah menjamin hak tiap warga negara akan air
bersih. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945, yang
menyatakan secara gamblang bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di
dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran
rakyat. Oleh karena itu terlihat bahwasanya hakikat dari pemenuhan kebutuhan akan air
bersih merupakan hak konstitusi dari setiap warga negara Indonesia.
Dikarenakan air merupakan salah satu sumber penghidupan dan kehidupan yang
berfungsi sebagai salah satu komponen pelengkap hidup manusia dan seluruh flora maupun
fauna yang ada di bumi. Tentunya kehidupan manusia tidaklah akan dapat dipisahkan dari
air. Oleh karena itu, air sebagai sumberdaya merupakan suatu hal yang penting bagi
pemenuhan kebutuhan manusia yang haruslah dipenuhi. Apabila merujuk kepada Pasal 1
ayat (2) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004, maka Air sendiri dapat diartikan sebagai
semua wujud air yang terdapat di atas maupun di bawa permukaan tanah, termasuk dalam
pengertian ini air permukaan, air tanah, air hujan dan air laut yang berada di darat (tambak).
Melihat dari kenyataan yang ada, kelangkaan air bersih masihlah sering terjadi di
Indonesia. Berbagai faktor yang dapat mempengaruhi kelangkaan air bersih di Indonesia
sendiri sejatinya beragam, mulai dari polusi mata air, overpopulasi suatu wilayah, kekeringan
dikarenakan musim kemarau yang panjang, hingga faktor jarak suatu wilayah yang jauh
dengan mata air bersih. Akan tetapi akhir-akhir ini, beberapa daerah di Indonesia sering
dilanda kekurangan air bersih dikarenakan musim kemarau berkepanjangan yang
menyebabkan kekeringan. Hal tersebut hampir terjadi secara menyeluruh di berbagai wilayah,
seperti wilayah Bogor, Banten, Banyumas, Sragen, NTT dan berbagai wilayah lainnya di
Indonesia.


Dari perspektif kebencanaan kekeringan sendiri didefinisikan sebagai keadaan
dimana adanya kekurangan curah hujan di dalam suatu periode waktu tertentu, yang
menyebabkan wilayah tersebut menjadi kekurangan air untuk memenuhi berbagai
kebutuhannya. Oleh karena itu kekeringan sejatinya dapat kelompokkan sebagai sebuah
bencana hidrometeorologis. Musim kemarau yang berlangsung secara lama di Indonesia ini
sejatinya dikarenakan adanya suatu perubahan iklim global yang dinamakan dengan El Nino
dan La Nina. El Nino merupakan suatu penyimpangan iklim yang mengakibatkan adanya
kemarau panjang di suatu wilayah, sedangkan La Nina merupakan penyimpangan iklim yang
menyebabkan adanya musim penghujan yang panjang. Perlu diketahui bahwa keduanya
merupakan suatu fenomena alam yang pada hakikatnya bersifat normal, dan dengan
demikian fenomena penyimpangan iklim global ini akan selalu berulang pada pola tertentu.
Salah satu wilayah yang tengah mengalami kekeringan di Indonesia adalah wilayah
Sragen. Sragen sendiri merupakan suatu Kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Tengah,
secara geografis Sragen terletak di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dilansir
dari berbagai situs berita online, terdapat beberapa titik wilayah di Sragen yang tengah
dihadapkan dengan kekeringan air akibat musim kemarau berkepanjangan. Beberapa titik
wilayah tersebut terdiri atas 43 (empat puluh tiga) desa yang terdiri dari 7 (tujuh) kecamatan,
yang antara lain adalah Kecamatan Miri, Gesi, Sukodono, Jenar, Sumberlawang, Mondokan
dan Tangen, dengan total jumlah penduduk sekitar 241.690 orang (data tahun 2018).
Penyebab krisis air yang terjadi di Sragen ini sendiri dikarenakan musim kemarau
berkepanjangan yang menyebabkan kekeringan. Dengan begitu sebenarnya kekeringan yang
terjadi di Sragen sudahlah terjadi dari tahun ke tahun tiap musim kemarau tiba.
Pada awalnya masyarakat membuat sumur galian untuk menghadapi krisis air yang
terjadi di Sragen. Akan tetapi dikarenakan sumur galian kedalamannya hanya berkisar sekitar
3 (tiga) sampai dengan 5 (lima) meter saja, maka ketika musim kemarau berjalan terlalu lama,
sumur tersebut biasanya menjadi kering dan sudah tidak ada airnya. Bahkan terdapat
beberapa sumur yang airnya terasa asin ketika kemarau tiba, sehingga air tersebut menjadi
tidak layak untuk dikonsumsi dan hanya digunakan untuk keperluan mandi dan ternak.

Oleh karena itu masyarakat pun menjadi semakin kesulitan untuk mendapatkan air bersih guna
memenuhi kebutuhan sehari-hari. Malahan tak sedikit pula masyarakat yang rela untuk
mengantri panjang serta berjalan kaki sepanjang 2 (dua) Kilometer demi mendapatkan 1
(satu) jeriken air bersih. Bagi masyarakat yang tergolong mampu maka mereka biasanya
memilih untuk membeli air seharga Rp. 250.000-Rp.300.000 dengan kapasitas kurang lebih
5.000 liter, dikarenakan bantuan dari pemerintah dalam bentuk dropping water ataupun
tandon air tidaklah selalu dapat diandalkan. Masyarakat lain pun ada juga yang memilih untuk
membeli air bersih secara eceran atau pergalon. Harga masing-masing sekitar Rp.
6000/galon dan Rp. 2.500/Jeriken. Biasanya masyarakat yang memilih untuk membeli air
bersih eceran ini menggunakan air tersebut untuk keperluan memasak ataupun minum.
Dari beberapa uraian di atas, terlihat bahwa sejatinya berbagai cara telah
dilaksanakan oleh masyarakat Kabupaten Sragen demi menghadapi kekeringan yang
melanda dari tahun ke tahun. Dari membuat sumur galian, mengandalkan bantuan
pemerintah dengan dropping water maupun tandon air, hinggga mengusahakan serta
mendorong adanya bantuan dari CSR (Corporate Social Responsibility). Akan tetapi salah
satu cara lain yang layak untuk dicoba ialah mendorong adanya PAMSIMAS (Program
Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat) dari pemerintah sebagai salah satu
solusi permanen yang dapat diterapkan. Program PAMSIMAS ini sejatinya telah dilaksanakan
sejak 2008 secara nasional. Program tersebut ditujukan sebagai salah satu program
pemberdayaan masyarakat di bidang air minum dan sanitasi, yang bertujuan untuk
meningkatkan jumlah warga masyarakat yang kurang terlayani termasuk masyarakat
berpendapatan rendah di wilayah pedesaan akan akses pelayanan air minum dan sanitasi
yang berkelanjutan. Program PAMSIMAS menjadi upaya pemerintah pusat dalam pengadaan
air yang merupakan salah satu program PNPM (Program Nasional Pemberdayaan
masyarakat). Program PAMSIMAS merupakan salah satu tujuan program dari Millenium
Development Goals (MDGs) yaitu untuk menurunkannya separuh proporsi penduduk yang
tidak mempunyai akses air minum dan sanitasi dasar pada tahun 2015, dan dilanjutkan
dengan Sustainable Developments Goals (SDGs) sampai dengan 2030.


Keunggulan dari program PAMSIMAS, ialah karena program ini dilaksanakan dengan
pendekatan berbasis masyarakat. Yaitu melalui pelibatan masyarakat itu sendiri, baik
perempuan, laki-laki, remaja maupun orang dewasa. Selain itu, PAMSIMAS juga
menggunakan pendekatan yang tanggap terhadap kebutuhan masyarakat (demand
responsive approach). Dengan begitu, kedua pendekatan tersebut dilakukan melalui proses
pemberdayaan masyarakat untuk menumbuhkan prakarsa, inisiatif, dan partisipasi aktif
masyarakat dalam memutuskan, merencanakan, menyiapkan, melaksanakan,
mengoperasikan, dan memelihara sarana yang telah dibangun, serta melanjutkan kegiatan
peningkatan derajat kesehatan masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu ruang lingkup program
PAMSIMAS mencakup 5 (lima) komponen program, yaitu:

  1. Pemberdayaan masyarakat dan pengembangan kelembagaan daerah dan desa;
  2. Peningkatan perilaku higienis dan pelayanan sanitasi;
  3. Penyediaan sarana air minum dan sanitasi umum;
  4. Hibah Insentif; dan,
  5. Dukungan teknis dan manajemen pelaksanaan program.
    • Apabila merujuk kepada Pedoman Umum Program PAMSIMAS, maka dijelaskan
      bahwa sasaran lokasi dari program PAMSIMAS sendiri adalah kabupaten yang memiliki
      cakupan pelayanan air minum aman perdesaan yang belum mencapai 100%. Penetapan
      kabupaten sasaran ini dilakukan oleh Pemerintah Pusat berdasarkan dari minat Pemerintah
      Kabupaten. Sedangkan untuk pemilihan desa sasaran sendiri, diserahkan dan dilakukan oleh
      Pemerintah Kabupaten yang bersangkutan. Target desa sasaran Program PAMSIMAS
      kurang lebih sekitar 27.000 desa yang dimulai sejak 2008 sampai dengan 2020. Perlu
      diketahui bahwa mulai tahun 2016, PAMSIMAS hendak melaksanakan pendampingan di
      15.000 desa baru (yang belum pernah mendapatkan program PAMSIMAS sebelumnya), serta
      pendampingan keberlanjutan pada kurang lebih 27.000 desa peserta Pamsimas. Dijelaskan
      secara lebih lanjut pula bahwa kriteria desa sasaran baru PAMSIMAS meliputi:
  6. Belum pernah mendapatkan Program Pamsimas;
  7. Cakupan akses air minum aman belum mencapai 100%;
  8. Cakupan akses sanitasi layak belum mencapai 100%;
  9. Prevalensi penyakit diare (atau penyakit yang ditularkan melalui air dan lingkungan)
    tergolong tinggi berdasarkan data Puskesmas;
  10. Memenuhi biaya per penerima manfaat yang efisien;
  11. Adanya pernyataan kesanggupan pemerintah desa untuk menyediakan minimal 10%
    pembiayaan untuk rencana kerja masyarakat (RKM) yang bersumber dari APBDesa;
    • Adanya pernyataan kesanggupan masyarakat untuk:
      a. Menyediakan Kader Pemberdayaan Masyarakat (KPM) yang akan fokus
      menangani bidang AMPL (selanjutnya disebut dengan Kader AMPL);
      b. Menyediakan kontribusi sebesar minimal 20% dari kebutuhan biaya RKM,
      yang terdiri dari 4 % dalam bentuk uang tunai (in-cash) dan 16 % dalam bentuk
      natura (in-kind);
      c. Menghilangkan kebiasaan buang air besar sembarangan (BABS).
      Salah satu wilayah di Indonesia yang sudah mendapatkan program PAMSIMAS ialah
      wilayah Banyumas. Di Banyumas sendiri telah dibangun 154 instalasi PAMSIMAS yang
      tersebar di 154 desa hingga akhir 2018 lalu. PAMSIMAS memang dapat menjadi salah satu
      solusi permanen dari krisis air disaat kemarau tiba, karena PAMSIMAS mengambil air bersih
      dari sumber mata air atau sumur yang dalam. Sehingga PAMSIMAS mampu mencukupi
      kebutuhan pada musim kemarau. Hanya saja memang, satu instalasi PAMSIMAS tidaklah
      mampu memenuhi kebutuhan seluruh warga desa. Berdasarkan pemberitaan online, satu
      instalasi PAMSIMAS di Banyumas hanya dapat mencakup sekitar 150-200 KK di masingmasing desa. Selain itu disebutkan pula anggaran atau alokasi total untuk program
    • PAMSIMAS hingga penyaluran ke penduduk kurang lebih mencapai Rp. 350 juta di
      Banyumas. Anggaran tersebut terbagi antara pemerintah dengan desa. Dari APBDesa ada
      dana kolaborasi yang mencapai 10%. Oleh karena itu, antara pemerintah dengan desa
      memang harus saling memberikan kontribusi. Dinas bertugas untuk membuat sumur dalam
      dan infrastruktur lainnya, sedangkan desa mengarahkan lokasinya.
      Dengan demikian apabila berkaca dari daerah lainnya seperti daerah Banyumas,
      maka Kabupaten Sragen juga dapat mengusahakan adanya penerapan Program PAMSIMAS
      dari Pemerintah Pusat. Dikarenakan kelangkaan air bersih yang menimpa Kabupaten Sragen
      sudah terjadi sejak lama dan tentunya hal tersebut mengganggu kualitas hidup masyarakat
      yang terpengaruhi. Hanya saja apabila program ini hendak dilaksanakan, maka diperlukan
      kekompakan yang besar dari masyarakat itu sendiri dan pemerintahan setempat dan
      pemerintaha pusat. Sehingga ketiga komponen tersebut dapat saling gotong royong
      melaksanakan dan memastikan berjalannya program, demi memenuhi hak dasar masyarakat
      Indonesia akan air bersih.
      DAFTAR PUSTAKA
    • Jurnal:
      Direktur Jenderal Cipta Karta, Pedoman Umum Program PAMSIMAS (Program Penyediaan
      Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat) III, Jakarta, 2016.
      Dwi Hastuti, Sarwono, dan Chatarina Muryani, “Mitigasi Kesiapsiagaan, dan Adaptasi
      Masyarakat Terhadap Bahaya Kekeringan Kabupaten Grobogan (Implementasi
      Sebagai Modul Konstektual Pembelajaran Geografi SMA Kelas X Pokok Bahasan
      Mitigasi Bencana)”, Vol 3, No. 1, 2017.
      Indarto dkk, “Studi Pendahukuan Tentang Penerapan Metode Ambang Bertingkat Untuk
      Analisis Kekeringan Hidrologi Pada 15 DAS di Wilayah Jawa Timur”, Jurnal
      Agroteknologi, Vol. 08, No. 02, 2014.
      Nurul Fitriyani dan Mardwi Rahdriawan, “Evaluasi Pemanfaatan Air Besih Program
      PAMSIMAS di Kecamatan Tembalang”, Jurnal Pengembangan Kota, Vol. 3, No. 2,
      2015.
      Sri Nengsi, “Analisis Keberlangsungan Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi berbasis
      Masyarakat (Pasca PAMSIMAS) di Desa Lilli Kecamatan Matangga Kabupaten
      Polewali Mandar”, Jurnal Kesehatan Masyarakat, Vol.4, No. 1, 2018, hlm 33.
      T. Moch. Nazar, Azmer dan Eldina Fatimah, “Evaluasi Keberhasilan Pengelolaan Program
      Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Maysrakat di Kabupaten Aceh Besar”,
      Vol. 1, No. 4, Jurnal Teknik Sipil Universitas Syiah Kuala, 2018, hlm 1020.
      Website:
      Ahmad Khairudin, Krisis Air Bersih Sejumlah Daerah di Sragen, Jalan 2 KM Demi 1 Jeriken,
      Dikutip pada 15 Desember 2020, di
      https://radarsolo.jawapos.com/read/2020/10/01/216766/krisis-air-bersih-sejumlahdaerah-di-sragen-jalan-2-km-demi-1-jeriken.
      Dinas Kependudukan dan Pencatataan Sipil Kabupaten Sragen, Jumlah Penduduk, Dikutip
      pada 15 Desember 2020, di http://dukcapil.sragenkab.go.id/data/jumlah_penduduk.
      Khodiq Duhri, Kekeringan Melanda, Warga Sumberlawang Sragen Berharap Bantuan Air
      Lebih Sering, Dikutip pada 15 Desember 2020, di
      https://www.solopos.com/kekeringan-melanda-warga-sumberlawang-sragenberharap-bantuan-air-lebih-sering-1076899.
      L Darmawan, Adakah Solusi Permanen Krisis Air Bersih Ketika Kemarau Datang?, Dikutip
      pada 15 Desember 2020, di https://www.mongabay.co.id/2019/06/21/adakah-solusipermanen-krisis-air-bersih-ketika-kemarau-datang/.
      Murni Kemala Dewi, Potensi Kekeringan Meteorologis di Beberapa Wilayah di Indonesia,
      Dikutip pada 15 Desember 2020, di https://www.bmkg.go.id/pressrelease/?p=potensi-kekeringan-meteorologis-di-beberapa-wilayah-diindonesia&tag=&lang=ID.
      Pemerintah Kabupaten Sragen, Tentang Sragen, Dikutip pada 15 Desember 2020, di
      https://www.sragenkab.go.id/tentang-sragen.html.
      Yuni, 7 Kecamatan di Sragen Alami Kekeringan, BPBD Lewat TRC Salurkan 532.000 Liter Air
      Bersih, Dikutip pada 15 Desember 2020, di https://www.pikiranrakyat.com/nasional/pr-01692197/7-kecamatan-di-sragen-alami-kekeringan-bpbdlewat-trc-salurkan-532000-liter-air-bersih.